RSBI : Pendidikan, Kualitas, atau Gengsi ?

| July 8, 2010

Beberapa tahun belakangan, setiap daerah mendirikan Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional.  Fenomena ini wajar, karena semua menginginkan perkembangan dalam pendidikan di daerahnya. Tapi apakah ini merupakan kebutuhan? Terlepas dari semua sarana dan prasarana yang disiapkan untuk itu, muncul beberapa pertanyaan yang bermunculan dari masyarakat ….

Latah?
Yup, yang terjadi sekarang adalah setiap daerah latah dengan kata “Internasional” tanpa memikirkan inti dari kata tersebut.  Tujuan didirikannya sekolah tersebut sebenarnya bukan untuk gagah-gagahan atau sekedar mencari gengsi sekolah.  Sekolah yang masih Standar Nasional bahkan di bawah Standar Nasional pun ingin menjadi Rintisan Bertaraf Internasional tanpa memikirkan tanggung jawab yang sangat berat dengan predikat tersebut.

Kualitas?
Lantas, apakah kualitas dari Sekolah tersebut sudah cukup “qualified” sebagai Sekolah Standar Internasional?  Apakah nanti tidak akan menjadi bumerang jika alumninya nanti “tidak bisa apa-apa”? Lantas, bagaimana dengan kualitas gurunya? Silahkan cari tau sendiri :P

Kurikulum?
Berbicara tentang kurikulum, apakah kurikulum kita sudah sesuai dengan kurikulum internasional?  Hmm,, yang sekarang digunakan adalah kurikulum yang sudah ada, diutak-atik, dan di “Inggris” kan.  Lantas dimana nilai tambahnya? Semua sama saja, dan jangan berharap sesuatu yang lebih dari sesuatu yang sama (Mario Teguh).

Bahasa?
Ngajarnya pake Bahasa Inggris? Gurunya bisa bahasa Inggris? Siswanya gimana? Nah, ini hal paling sering dibicarakan.  Satu hal yang harus diperhatikan, kita perlu mengubah paradigma masyarakat bahwa RSBI tidak melulu bahasa Inggris.  Bahasa adalah media dalam belajar.  Jika pelajarannya sulit dipahami dengan bahasa Inggris, mengapa harus diipaksakan British?

Sebagai informasi, Malaysia, sebagai negara yang sudah lama menerapkan Sekolah Standar Internasional melarang pembelajaran MIPA menggunakan Bahasa Inggris.  Hal itu dilakukan, karena setelah beberapa tahun dilakukan pengamatan, ternyata pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris dianggap gagal, sehingga mereka kembali mengajarkan pelajaran tersebut dalam bahasa Melayu.

Mahal?
Yup, begitulah kalo ingin kualitas bagus. Harga tidak akan pernah bohong sobat :)

Mahal?

Yup, begitulah kalo ingin kualitas bagus. Harga tidak akan pernah bohong sobat :)

Kata kunci pencarian untuk artikel ini:

Tags: , , , , ,

Category: Pendidikan

About uphy81: Blogger Palu yang Online sendiri, tidak tergabung dalam komunitas apapun. Suka menulis apapun yang mau ditulis. Apapun yang menguntungkan, selama tidak merugikan orang lain, pasti diikuti, direview, dan dikasi tau ke orang lain supaya bisa ikut untung juga. Salam kenal untuk pembaca setia.. Dimanapun Anda berada View author profile.

Comments (7)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. lutfi says:

    yayaya,,, setuju sekali dengan ini. Pendidikan memang juga butuh biaya

  2. Warung Online says:

    Kalau dikampung kota, gengsi jadi lebih penting keknya… dan sekarang para pengusaha sudah mulai melirik bisnis pendidikan…

    bisnis yg akan terus dibutuhkan.. kayak beras. dan ini berefek negatif juga

    • uphy81 says:

      dan karena gengsi lah yang menyebabkan para Oknum mulai mengkomersilkan pendidikan di Indonesia

  3. Sahabat Blogger says:

    hmm..menurut saya juga karena dipengaruhi oleh permintaan pasar yang tinggi. sehingga banyak yang memanfaatkan hal ini

    • uphy81 says:

      kalo yang itu mungkin saja sob… tapi kalo terlalu banyak, nanti akan bikin harga sekolah itu anjlok bos,,, :P

  4. Arie says:

    Kaya’a itu murni masalah ekonomi alias duit dech. Dari pada ngajar cape2 di Sekolah negeri yg Notabene agak “PAS-PASAN”, mending pada bikin sekolah yg rada indo atau nagri kan. Untung gede, cepet balik modal, dll.